Cerpen : Dia Ibuku - Tri Wahyuni Zuhri


DIA IBUKU

Oleh : Tri Wahyuni Zuhri

Lintang, Sampai kapan hatimu tetap membeku seperti ini.
Ibu sedang sakit terus dan selalu mencari dirimu.
Pulanglah Lintang, lupakan saja masa lalu.
Kakakmu,

Adji

Sepenggal surat yang dikirimkan mas Adji kembali mengusik perasaanku. Surat ini adalah surat yang kesekian kalinya yang isinya nyaris tidak berbeda dalam 2 bulan terakhir ini. Dan aku, untuk kesekian kalinya merasa sangat terganggu dengan isi surat itu.

Ibu, rasanya bukan sebuah sebutan yang layak bagi wanita yang kata mas Adji sedang sakit keras. Widyasari, nama wanita itu. Wanita yang bagiku telah ku kubur kenangan bersamanya selama 5 tahun terakhir ini.

Widyasari adalah seorang yang menjadi wanita kedua bagi ayahku.Beberapa saat setelah ibuku meninggal, hanya dalam hitungan bulan saja, ayah telah tega memberikan posisi ibu yang sangat mulia di mataku dengan kehadiran widyasari.

Sungguh aku tidak rela. Berbagai protes di sertai dengan aksi mogok telah kulakukan sebagai tanda tidak setuju atas tindakan ayah, namun tidak satupun hal tersebut mengubah keinginan ayah untuk menikahi widyasari.

Aku ingat sekali , pada suatu malam di awal bulan Mei, aku bertanya kepada ayah mengapa ia begitu cepat melupakan ibu dan menggantikan posisinya dengan Widyasari.
Ayah terdiam lama mendengar pertanyaanku. Dan setelah itu kulihat butiran air mata menetes dari kedua kelopak matanya .

“Ayah ingin ada seorang ibu yang bisa menjaga Lintang dan Adji bila ayah pergi nanti”. Jawab ayah kala itu.

“Ayah mau pergi kemana? Lagipula kalau ayah pergi, Lintang dan mas Adji akan baik-baik saja. Toh, kami juga terbiasa mandiri,” sahutku agak merajuk.

Ayah terdiam, sejenak kemudian ia mulai mendekat dan mengusap lembut rambutku.



“Kalau ayah pergi di panggil yang maha kuasa dalam waktu dekat ini, ayah tidak ingin Lintang dan Adji jadi anak yatim piatu. Ayah ingin kalian berdua tetap ada yang menjaga sampai kalian menikah nanti”.

“Ayah jangan berkata begitu,”kataku gusar,” Kita kan tidak akan tahu kapan kita meninggal. Jadi Lintang mohon kepada ayah, jangan bicara seperti itu lagi. Lintang jadi ngeri memikirkan hal itu. Lintang sudah cukup berduka dengan kepergian ibu, dan Lintang tidak ingin berduka lagi saat ini”.

Ayah hanya tersenyum. Kami berdua saling berangkulan sambil menikmati suasana bulan purnama. Dan dengan perasaan tidak rela, aku tetap menerima Widyasari sebagai ibu baruku. Semua ini demi ayah, pikirku. Aku tidak ingin ayah terus menerus bersedih karena kepergian ibu.

Dengan hadirnya Widyasari di rumah, ayah kembali menemukan semangat hidupnya. Walaupun demikian, aku tetap tidak pernah memanggil Widyasari dengan sebutan ibu. Bagiku, sebutan ibu hanya bisa di berikan kepada seorang wanita yang memang pantas menjadi ibuku,dan wanita itu bukan Widyasari.

Setahun setelah Widyasari resmi menjadi ibu baru dirumah, serta bertepatan dengan kelulusan kuliahku, ayah dipanggil menghadap yang kuasa. Saat itu hidupku serasa tidak berarti apa-apa. Rasa duka akibat kepergian ibu belum juga sirna dalam benakku, namun aku harus di hadapkan duka kembali karena kepergian ayah.

Aku benar-benar syok serta terpukul. Beberapa hari setelah ayah meninggal, aku mengalami depresi berat. Aku lebih banyak mengurung diri di kamar di temani dengan berbagai kenangan yang silih berganti bersama ayah dan ibu. Mas Adji dan Mbak Lita, istrinya, bergantian menghiburku.Widyasari pun ingin melakukan hal yang sama. Namun, setiap kali ia ingin mendekatiku, saat itu pula aku merasakan darah mengalir deras ke seluruh urat nadiku dan luapan kebencian yang besar kepadanya.

Ya.., aku menjadi membencinya setelah kematian ayah.Seandainya aku tahu ayah akan meninggal secepat ini menyusul ibu, tidak akan kubiarkan ada wanita lain menjadi istri ayah. Cukup aku dan mas Adji yang mengisi hari-hari terakhir ayah, bukan Widyasari.

Hari-hari setelah kematian ayah, membuatku lebih sering berbuat ulah dengan Widyasari di rumah. Dan wanita itu, seperti biasa, ia hanya akan mengurut dada sambil menahan tangisnya akibat ulahku. Dan aku tetap tidak peduli. Ada rasa kebahagian tersendiri melihat dia menderita seperti saat itu. Aku benar-benar menikmatinya.

Namun, Widyasari bukan wanita yang sesabar ku kira. Setelah beberapa bulan aku melakukan tindakan yang keterlaluan padanya, akhirnya ia bersikap tegas padaku. Tepat pada malam ulang tahunku yang ke – 24 tahun, aku pergi meninggalkan rumah setelah bertengkar hebat dengannya. Rumah, tempat ku lahir serta dibesarkan dengan penuh cinta kasih ayah dan ibu, akhirnya ku tinggalkan karena wanita itu.

“Saya sudah tidak tahan dengan kelakuanmu, Lintang”. Katanya malam itu.

“Seharusnya saya yang tidak tahan dengan tante di sini. Saya tahu tante disini hanya ingin mengambil simpatik ayah, agar seluruh harta ayah akan jatuh kepada tante!” sahutku lebih keras.

“Saya tidak pernah berfikiran demikian, Lintang. Dan itu sudah sering saya katakana Saya mencintai ayahmu. Ayahmu yang memberi amanat kepada saya untuk menjaga Lintang dan Adji sekaligus seluruh hartanya untuk kalian nantinya”. Jawabnya.

“Pembohong! Itu alasan Tante saja. Setelah ayah meninggal, kenapa tante masih bersikeras tinggal di rumah ini? Ambil saja harta ayah saya, tapi silahkan tinggalkan rumah ini! Lintang bisa menjaga diri sendiri tanpa tante.”

“Saya adalah istri ayahmu dan berarti saya ibumu. Dan saya harus menjalankan semua amanatnya. Termasuk tinggal dirumah ini sambil menjaga kalian berdua”.

“Sampai kapan pun saya tidak pernah menanggap tante sebagai ibu saya. Tolong ingat itu! Kalau tante tidak keluar dari rumah ini, maka saya yang akan keluar dari sini”. Kataku tegas.

Malam itu adalah pertama kalinya dalam hidupku, aku harus meninggalkan rumahku sendiri. Emosi dan kemarahan sudah menguasai diriku. Aku tidak peduli saat Widyasari menangis sambil memohon kepadaku agar tidak meninggalkan rumah. Aku tetap pada keputusanku.Akan kucari hidupku sendiri diluar rumah ini, dari pada hidup dengan satu rumah dengan wanita yang tidak pantas ku sebut ibu.

Itulah peristiwa 5 tahun yang lalu. Aku tetaplah Lintang. Seorang wanita dengan berbagai masalah hidup yang harus di jalani. Yang berbeda sekarang adalah aku menjadi wanita karier sukses berusia 29 tahun tetapi tetap membujang. Yang berbeda sekarang adalah rasa benciku terhadap widyasari yang sudah hilang entah kemana. Yang berbeda sekarang adalah rasa penyesalanku karena pernah menyakiti hatinya.

5 tahun bukan waktu yang pendek bagiku untuk memberanikan diri meminta maaf kepadanya . Berkali-kali aku mencoba menelponnya atau mencoba datang kerumah, tapi berkali-kali pula aku langsung menutup telpon begitu mendengar suaranya atau pergi begitu saja saat ia membuka pintu rumah.

Widyasari memang ibu tiriku, dan widyasari tidak pernah melahirkanku dari rahimnya. Tapi widyasari telah mencoba segala cara untuk menjadi ibu bagiku. Walaupun dengan segala cara aku coba menghindari dirinya, namun di setiap jengkal pula ia mencoba segala cara untuk menyakinkan diriku bahwa ingin menjadi ibu sejati.
Perlahan aku angkat gagang telpon dari meja kantorku. Dengan segenap keberanian, aku memencet nomor telpon rumah.

“Assalamu’alaikum…. “ terdengar suara lembut seorang wanita dari gagang telpon.

“Waalaikumussalam. Ini Lintang, Ibu…. “ kataku pelan.
Terdengar isak tangis dari arah seberang telpon. Itu suara ibu Widayasari. Aku pun terhanyut dalam suasana tangisannya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memanggil wanita itu dengan sebutan ibu. Widyasari, nama wanita itu. Dan dia adalah ibuku…

Bontang, Desember 2005

*)cerpen ini pernah di muat di Harian Kaltim Post, Edisi Minggu, 25 Desember 2005